Karya mas Aly,M 2012
Sudah hampir
dua jam Ita mondar-mandir mengelilingi kamarnya, gadis ini terlihat sangat
gelisah. Berulang kali dia melirik hp kecil yang ada di tempat tidurnya, tapi
tak ada satu pun pesan masuk yang tampak di hp itu.
“Kamu
kemana, sih? Kok sms ku nggak di balas-balas” gerutu Ita sambil memencet nomer
telepon dengan cepat.
Sebelum Ita
sempat menelpon, sebuah SMS masuk dan di layar ponsel itu tertulis My Prince.
Secepat kilat dia membuka SMS itu lalu membacanya dengan tidak sabar. Ternyata
orang yang selama ini dia tunggu itu baru saja selesai bertanding dalam
turnamen voli. Setelah membalas SMS itu, Ita memejamkan matanya untuk tidur,
karena malam telah larut.
Keesokan
harinya...
Seperti biasa,
Ita selalu mengirimkan ucapan selamat pagi pada kekasihnya sebelum dia
berangkat kuliah. Namun, hatinya kembali tak tenang ketika sang kekasih belum
juga membalas SMS-nya hingga sore hari. Berkali-kali dia mengirimkan SMS,
hingga akhirnya balasan yang ditunggu datang.
-aku udah
solat dan makan kok-
Ita langsung
membalas SMS itu, tapi setelah beberapa kali SMS-an, dia merasa ada yang aneh
dengan pesan dari kekasihnya itu. Hingga akhirnya dia tahu kalau ternyata yang
membalas SMS itu bukanlah Ivan pacarnya, tapi temannya. Hal itu membuat Ita
sangat marah dan tidak membalas SMS itu lagi. Dia berharap pacarnya akan
menghubunginya dan meminta maaf langsung padanya.
Tapi
pertengkaran itu malah berlanjut hingga malam hari. Meskipun Ivan telah meminta
maaf, tapi Ita masih juga kesal dengan sikap Ivan yang tidak mau membalas
SMS-nya. Dan malam itu pun berakhir tanpa ada SMS dari keduanya.
Pertengkaran
kedua pasangan itu berakhir dengan kata putus yang dikirimkan lewat SMS oleh
Ivan. Hal itu membuat Ita yang sejak awal sudah sedih akhirnya menangis di
depan sahabat-sahabatnya. Dia tidak menyangka pacar yang selama ini sangat
dicintainya ternyata tega memutuskan hubungan mereka begitu saja. Namun,
setelah mendengar alasan Ivan yang sudah merasa tidak nyaman lagi dengan dia,
Ita akhirnya menerima keputusan itu dengan hati yang hancur.
Malam
harinya, Ita yang masih stres dengan kenyataan yang menyakitkan itu mendadak
jatuh sakit. Tubuhnya demam dan kadang dia menggigil. Dia berharap Ivan akan
menghubunginya dan bilang kalau mereka tidak jadi putus. Tapi harapan itu,
hanya menjadi harapan semata, karena tak satu pun SMS dari Ivan yang masuk ke
hp-nya.
* * *
Sudah hampir
seminggu Ita sakit, hingga akhirnya dia harus di rawat di rumah sakit. Tapi
kondisinya belum juga membaik. Maag yang selama ini di deritanya ternyata sudah
sangat parah hingga menimbulkan pendarahan. Dokter pun mengatakan kalau salah
satu faktor yang menyebabkan penyakit Ita semakin parah adalah stres yang
dialaminya hingga membuat kondisi tubuhnya menurun.
Gati,
sahabat Ita yang paling mengerti keadaan Ita hanya bisa menatap iba tubuh
sahabatnya yang sekarang terkulai lemah diatas tempat tidur. Wajahnya pucat dan
tubuhnya semakin kurus. Gati sangat mengerti perasaan Ita yang merasa sangat
kehilangan Ivan kekasihnya. Kadang samar-samar dia mendengar Ita menyebut nama
Ivan dalam tidurnya, dan hal itu membuat Gati menangis, tak sanggup melihat
penderitaan yang di rasakan oleh sahabatnya itu.
“Ta, gmn
keadaan kamu sekarang?” tanya Gati ketika sahabatnya baru saja bangun.
“Alhamdulillah
udah mendingan, udahlah nggak usah cemas gitu” jawab Ita, wajahnya terlihat
pucat.
“Kamu masih
mikirin Ivan, ya?”
“Maksud
kamu?”
“Dari
kemarin aku dengar kamu memanggil nama Ivan berkali-kali saat kamu lagi tidur.
Kamu kepikiran dia lagi?” tanya Gati cemas.
“Iya, aku
kangen sama dia. Apa dia menghubungiku?” jawab Ita.
“Setahu aku,
sih, belum ada SMS ataupun telepon dari dia. Kenapa?”
“Enggak
apa-apa, cuma mau tahu aja dia peduli atau nggak” jawabnya, wajahnya terlihat
sedih.
“Apa perlu
aku telepon dia untuk kasih tahu keadaan kamu?”
“Enggak
usah, aku nggak mau dikasihani sama dia.”
Gati hanya
bisa diam mendengar jawaban sahabatnya itu. Rasa kagum dan sedih bercampur di
hatinya. Kagum akan ketegaran sahabatnya itu, tapi sedih melihat penderitaan
yang harus dialami Ita. Gati tahu di saat sakit seperti itu, pasti Ita ingin
Ivan ada bersamanya, dan nggak meninggalkannya seperti ini.
Hampir tiga
minggu Ita di rawat di rumah sakit, dan selama itu juga Gati selalu
memperhatikan perkembangan kesehatan sahabatnya itu. Setiap kali Ita merasa
sakit di tubuhnya ataupun tubuhnya demam, Ita selalu mendengarkan sebuah lagu
ciptaan Ivan, mantan kekasihnya. Dan seperti mukjizat, keadaan Ita perlahan
membaik setelah mendengar lagu itu. Gati akhirnya mengerti kerinduan Ita pada
Ivan sangatlah besar hingga menyiksa seluruh tubuhnya bukan hanya hatinya.
Hingga suatu
hari, tanpa sepengetahuan Ita, Gati menelpon Ivan yang ada di luar kota. Dia
menceritakan keadaan Ita pada cowok itu, dan dia juga meminta Ivan untuk datang
menemui Ita. Tapi, Ivan masih belum juga mau menemui Ita.
“Aku mohon
sama kamu, Ita butuh kamu. Tolong datanglah ke Jakarta dan temui Ita walaupun
hanya sebentar” ucap Gati.
“Aku belum
bisa menemui dia, lagipula kehadiranku malah bisa membuat dia semakin sakit”
jawab Ivan.
“Satu kali
saja, tolong temui dia. Mungkin dengan bertemu denganmu dia bisa sembuh. Atau
kamu akan menyesal” paksa Gati.
“Apa maksud
kamu? Memang penyakitnya itu parah?”
“Datang dan
lihatlah sendiri keadaan Ita sekarang. Sebelum kamu menyesal untuk selamanya”
ucap Gati sebelum mengakhiri teleponnya.
* * *
Beberapa
hari setelah telepon itu, Ivan mengabari Gati kalau dia akan ke Jakarta untuk
menemui Ita. Gati yang mendapat kabar menggembirakan itu langsung menemui Ita.
Tapi sayangnya Ita sedang tidur saat itu. Gati hanya bisa menunggu, sampai Ivan
tiba di Jakarta dua hari lagi.
Hari itu
akhirnya tiba juga. Ivan, orang yang selama ini di tunggu kedatangannya oleh Ita
dan Gati akhirnya datang. Dia meminta Gati mengantarkannya ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Ivan terdiam melihat keadaan gadis yang ada di
kamar rawat itu. Sosok yang selama ini tidak pernah di jumpainya, kini
dilihatnya dengan kondisi yang memprihatinkan. Selang infus terpasang di
tangannya, matanya terpejam, tapi di kedua telinganya terpasang headset agar
Ita bisa selalu mendengarkan lagu musik yang bisa menenangkan.
“Dia hanya
sedang tidur. Tunggu saja, sebentar lagi juga dia bangun” ucap Gati yang
berdiri di belakang Ivan.
“Sudah
berapa lama dia seperti ini?” tanya Ivan, dia mulai berjalan mendekati tempat
tidur Ita.
“Hampir satu
bulan dia terbaring di tempat tidur itu. Sekarang coba kau dengar lagu yang
sedang di dengarkan Ita” ucap Gati sambil melepas satu headset itu dan
memberikannya pada Ivan.
Ivan
terkejut ketika mendengar lagu itu, lagu yang pernah dia ciptakan untuk Ita
dulu. Dia tidak menyangka gadis itu masih menyimpan rekaman lagu itu. Kedua
matanya menatap wajah Ita yang tertidur.
“Itulah yang
membuat Ita bertahan selama ini. Itu yang dia lakukan bila sedang merindukanmu.
Suaramu yang sangat dia rindu” ucap Gati.
Ivan yang
masih merasa terkejut perlahan memegang tangan Ita, kedua matanya tak lepas
dari wajah Ita. Terlihat masih ada kasih sayang yang dalam dari tatapan itu.
Tiba-tiba tangan yang di pegang Ivan bergerak, Ita bangun dari tidurnya. Dan
dia terkejut ketika ada seorang cowok duduk di sampinya sambil memegang
tangannya.
“Tenang, Ta.
Dia Ivan, orang yang selama ini kamu rindu” ucap Gati.
“Ivan?
Kenapa bisa ada disini?” tanya Ita yang masih terkejut.
“Maaf, ya.
Aku yang menelpon dia dan meminta dia untuk datang menjengukmu. Karena aku
nggak tega melihat kamu seperti ini terus.”
“Kenapa kamu
bisa sampai kayak gini? Kenapa kamu nggak menjaga kesehatanmu?” tanya Ivan yang
masih tetap menatap wajah Ita.
“Itu bukan
urusanmu” sahut Ita sambil melepaskan genggaman Ivan.
“Waktu itu
kamu kan udah janji, bisa terima keputusanku untuk mengakhiri hubungan kita, dan
berjanji akan baik-baik saja. Tapi kenapa sekarang kamu kayak gini?”
Ita hanya
diam dan memalingkan wajahnya dari Ivan. Sementara Ivan masih terus berbicara
pada Ita. Gati yang melihat itu hanya berharap keadaan Ita akan membaik setelah
bertemu Ivan. Dan ternyata benar, setelah berdebat cukup lama akhirnya Ita dan
Ivan mulai akrab kembali. Wajah Ita yang tadinya pucat juga mulai berubah
cerah.
Pertemuan
antara Ita dan Ivan terus berlangsung selama seminggu, dan selama itu keadaan
Ita berangsur membaik. Suatu hari, Ita ingin pergi ke pantai bersama Ivan, dia
ingin melihat sunset bersama orang yang di cintainya. Walaupun awalnya dokter,
orang tua Ita, dan Ivan tidak setuju, tapi demi kesembuhan Ita, akhirnya mereka
menyetujui permintaan Ita itu. Dan pergilah mereka berdua ke pantai untuk
melihat sunset.
Di pantai
itu, Ivan menyanyikan lagu yang baru di buatnya untuk Ita. Lagu yang liriknya
adalah ciptaan Ita, dulu dia pernah meminta Ivan untuk menciptakan lagu dari
lirik yang dibuatnya. Dan kini lagu itu telah selesai dan Ivan menyanyikannya
secara langsung untuk Ita.
Keadaan yang
sangat romantis itu membuat Ita bahagia. Berkali-kali dia tersenyum dan tertawa
saat bersama Ivan. Kebahagiaan yang entah akan bertahan sampai kapan.
“Aku bahagia
banget hari ini, karena bisa pergi sama kamu, tertawa dan melihat sunset
bersama kamu. Dan yang lebih membahagiakan, aku bisa mendengar lagu itu secara
langsung” ucap Ita sambil memandang langit.
“Aku juga
senang bisa jalan sama kamu. Makanya kamu harus cepat sembuh, nanti kita bisa
jalan-jalan lagi” sahut Ivan.
“Iya.
Rasanya aku nggak ingin ini berakhir, aku ingin terus bersama kamu. Bahagia
seperti ini.”
Ivan hanya
bisa tersenyum mendengar ucapan Ita. Lalu mencium kening Ita dengan lembut. Ita
yang terkejut hanya bisa menatap Ivan, lalu tersenyum.
“Aku sayang
kamu. Cepat sembuh, ya” ucap Ivan.
Air mata
mengalir dari mata Ita. Suasana mengharukan itu terlihat sangat membahagiakan.
Setelah itu mereka kembali ke rumah sakit karena Ita masih harus di rawat.
* * *
Sebuah kabar
mengejutkan membuat Ivan dan Gati datang ke rumah sakit lebih pagi dari
biasanya. Keadaan Ita yang belakangan ini mulai membaik, tiba-tiba drop. Semua
dokter dan perawat sibuk mengatasi keadaan itu. Sedangkan Ivan, Gati dan keluarga
Ita hanya bisa menunggu dan berdoa dari luar ruang ICU.
Setelah
beberapa lama menunggu, akhirnya dokter membolehkan mereka untuk masuk ruangan
itu dan melihat kondisi Ita yang sudah sadar. Wajah gadis itu semakin pucat dan
tubuhnya dingin. Tapi dia masih tersenyum saat melihat keluarga dan dua orang
yang berharga baginya itu masuk ke kamarnya.
“Kamu nggak
apa-apa kan, sayang?” tanya orang tua Ita.
“Aku
baik-baik aja kok, Bu” sahut Ita yang masih lemah.
“Ivan, aku
mau mendengar kamu menyanyi. Tolong nyanyikan lagu itu sekarang. Aku mau
dengar” ucap Ita dengan suara yang hampir seperti bisikan.
“Nanti saja,
sekarang kamu istirahat dulu” sahut Ivan.
“Aku mau
mendengarnya sekarang. Aku lelah, ingin istirahat. Aku ingin mendengar lagu itu
untuk menemani tidurku.”
“Nyanyikan
saja” ucap Ibu Ita.
Akhirnya
Ivan menyanyikan lagu yang ingin di dengar Ita itu. Tangannya menggenggam
tangan Ita yang dingin, Ita juga menggenggamnya dengan erat seperti tak mau
lepas lagi. Perlahan matanya terpejam dan akirnya dia tertidur. Tapi bukan
tidur biasa, karena monitor yang menunjukkan gerakan jantung Ita perlahan
berhenti, hingga akhirnya sebuah garis muncul di monitor itu. Dan tak ada lagi
pergerakan grafik detak jantung Ita. Ivan yang dari tadi menggenggam tangan Ita
merasa tangan Ita perlahan melepas genggamannya.
Mereka terus
memanggil Ita, tapi dia tidak juga membuka matanya. Dokter juga sudah
mengatakan kalau Ita telah pergi untuk selamanya. Air mata seperti tak bisa
berhenti mengalir dari mata keluarga, Gati dan Ivan. Mereka tidak menyangka,
Ita yang mereka kira akan segera sembuh ternyata meninggalkan mereka secepat
itu.
Begitu juga
Ivan, dia tidak mengira kalau lagu yang dia nyanyikan itu adalah lagu terakhir
untuk Ita. Sebelum wajah Ita di tutupi kain putih, Ivan mencium kening gadis
yang pernah di cintainya itu dengan lembut.
“Selamat
jalan, sayang. Maafkan aku yang telah membuatmu seperti ini. Semoga kau tenang
disana.”


